Kamis, 14 Juni 2012

Baktimu Kepada Orang Tua


TAUHID DAN BAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA, DUA SAYAP YANG HARUS SALING BERSANDING
Hak kedua orang tua atas anak-anak mereka sangat agung. Karena itu, Allah menyandingkan perintah untuk beribadah kepadaNya dengan keharusan berbakti kepada mereka berdua. Allah berfirman:
"Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu." [Al Isra`: 23].
Lantaran begitu tingginya hak mereka, Allah memerintahkan kita untuk selalu menyuguhkan kebaikan kepada mereka dan berinteraksi dengan mereka dengan sikap yang ma'ruf (pantas). Kendatipun mereka dalam kungkungan kekafiran. Sekalipun mereka memaksamu, wahai sang anak, untuk menyekutukan Allah dengan obyek yang tidak jelas kedudukannya. Allah berfirman:
"Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentangnya, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergauilah kedunya dengan baik". [Luqman: 15].

Bahaya Riba

Pendahuluan
Banyak di antara kita telah mengetahui bahwa riba itu haram. Baik melalui firman Allah, hadits Nabi, pendapat para ulama dan lembaga-lembaga fatwa di berbagai negara. Kita pun menyadari bahwa di antara praktek riba yang paling jelas di masyarakat kita adalah kegiatan meminjamkan uang dengan bunga atau yang dikenal dengan rente. Namun bersama dengan berkembangnya jaman, praktik-praktik riba juga berkembang dan merambah ke berbagai sendi kehidupan. Ada yang jelas bentuknya dan ada yang samar. Tulisan berikut mencoba mengingatkan kembali akan masalah yang sangat berbahaya ini, karena riba termasuk salah satu dosa besar.
Definisi Riba :
Secara bahasa riba adalah pertumbuhan atau tambahan, baik dalam kebaikan maupun keburukan. Sedangkan dalam istilah fikih riba diartikan sebagai tambahan atas harta pokok (modal) yang dipinjamkan sebagai kompensasi atas perbedaan waktu yang ada.

Senin, 11 Juni 2012

Ahlus Sunnah Dan Ahlul Bait


Banyak orang yang mengaku sebagai pecinta Ahli Bait Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Namun seperti diungkapkan dalam sebuah bait syair :
كُلٌّ يَدَّعِي وَصْلاً لِلَيْلَى وَلَيْلَى لاَ تُقِرُّ لَهُمْ بِذَاكَا
masing-masing mengaku punya hubungan cinta dengan Laila Sementara Laila tidak mengakui hubungan itu dengan mereka
Mestinya, setiap orang yang mengakui sesuatu harus membuktikan kebenaran pengakuannya, sehingga bukan sekedar bualan kosong belaka :
وَالدَّعَاوِي إِنْ لَمْ تَكُنْ لَهَا بَيِّنَاتٌ فَأَصْحَابُهَا أَدْعِيَاء
Pengakuan-pengakuan jika tak ada bukti Maka pengakunya hanya pembual belaka